Logo Jazz Pantai

Apa dan Siapa

Banyuwangi telah lama dikenal sebagai wilayah pesisir yang memiliki pelabuhan yang strategis, sejak jaman kerajaan Blambangan, Majapahit, masa kolonial, hingga masa Indonesia modern sekarang ini. Dari sisi perkembangan sejarah seni dan budaya nusantara, Banyuwangi telah menjadi salah satu simbol penting budaya pesisir di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Laut yang biasanya dianggap sebagai pemisah antara pulau-pulau, di Banyuwangi dapat berubah arti menjadi penghubung atau titik temu. Penghubung antar pulau, dan menjadi titik temu manusia beserta kultur dari seluruh penjuru nusantara, bahkan dunia.

Keragaman seni budaya yang ada di Banyuwangi tidak bisa dipungkiri telah membentuk Banyuwangi menjadi suatu komunitas yang khas dan unik di antara berbagai komunitas pesisir pulau Jawa. Kekayaan seni budaya Banyuwangi terbentuk karena pengaruh tradisi keraton Majapahit, Blambangan, dan Mataram di masa lalu serta merupakan hasil akulturasi budaya masyarakat Jawa, Bali, dan Madura, yang banyak dipengaruhi budaya Melayu, India, China dan Arab. Kolaborasi antara Jazz, yang notabene adalah seni musik dari dunia barat, yang diwakili dengan kehadiran alat musik saxsophone, gitar, drum, trompet, dengan seni musik timur (nusantara) yang diwakili oleh kehadiran gamelan, gitar, angklung, gendang, akan menghasilkan suatu pergelaran musik yang sangat unik. Dan pada gilirannya kehadiran Banyuwangi Beach Jazz Festival akan membentuk citra baru Banyuwangi sebagai daerah yang terbuka dalam menerima pengaruh seni budaya dari belahan dunia yang lain yang pada ujungnya akan semakin memperkaya keragaman seni budaya daerah Banyuwangi, dan kawasan lainnya di Indonesia.

Dengan diadakannya Banyuwangi Beach Jazz Festival ini secara konsisten setiap tahun, diharapkan event ini dapat menambah khasanah pergelaran jazz di Indonesia dan akan memberikan kontribusi didalam pengembangan pariwisata di daerah maupun di tingkat nasional. Dengan berbagai kegiatan seni budaya yang ditampilkan dalam Banyuwangi Festival, termasuk Banyuwangi Beach Jazz Festival, Banyuwangi akan semakin dikenal dan tampil terdepan sebagai daerah yang secara proaktif dan kreatif melestarikan simbol budaya maritim/pesisir nusantara, yang dikemas dan dikelola secara profesional dan modern namun tetap menjaga tradisi dan kearifan lokal.

Abdullah Azwar Anas

Abdullah Azwar Anas

Abdullah Azwar Anas adalah salah seorang pemimpin muda Indonesia yang dinamis, penuh gagasan dalam membangun daerah  dan masyarakatnya dengan tetap menjaga kelestarian budaya dan kearifan lokal. Abdullah Azwar Anas berpendapat bahwa mempromosikan potensi suatu daerah memerlukan segmentasi, target, dan positioning yang tepat. Menyadari akan besarnya kekayaan alam, manusia dan budaya Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menyelenggarakan acara olahraga, seni dan budaya bertaraf internasional untuk mempromosikan Banyuwangi. Saat ini Banyuwangi menjadi satu-satunya Kabupaten di Indonesia yang memiliki kalender kegiatan wisata dan festival seni-budaya yang berlangsung selama setahun.

Sigit Pramono

Sigit Pramono

Sigit Pramono adalah penggagas acara Jazz Gunung yang sudah diselenggarakan 6 kali sejak 2009 di kawasan Gunung Bromo bersama Djaduk Ferianto dan Butet Kartaredjasa. Sigit juga dikenal sebagai seorang fotografer lansekap di Indonesia. Melalui kegiatannya di bidang fotografi, Sigit banyak terlibat didalam pengembangan potensi ekonomi dan konservasi alam kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Sigit memprakarsai beragam kegiatan seni dan budaya dalam rangka melakukan rebranding kawasan Bromo, sehingga Bromo tidak hanya dikenal sebagai tempat melihat matahari terbit. Kegiatan yang dilakukan di kawasan ini mencakup penataan lingkungan, mendirikan galeri fotografi, pameran dan lokakarya seni tahunan, serta Jazz Gunung. Berdasarkan pengalamannya di kawasan Bromo ini serta terkesan oleh kiprah Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi yang sangat progresif dalam membangun daerahnya, Sigit tergerak untuk membantu Banyuwangi mengembangkan potensi ekonomi, seni, dan budaya yang sangat kaya dan beragam. Di dunia profesional, Sigit Pramono dikenal sebagai bankir senior yang berpengalaman lebih dari 30 tahun.

Djaduk Ferianto

Djaduk Ferianto

Djaduk Ferianto adalah seorang seniman musik Indonesia, Sejak tahun 1972, Djaduk Ferianto sering menggarap illustrasi musik sinetron, jingle iklan, penata musik pementasan teater, hingga tampil bersama kelompoknya dalam pentas musik di berbagai negara. Ia bersama kelompoknya terkenal dengan eksplorasi berbagai alat dan benda sebagai instrumen musiknya.  Sampai saat ini Djaduk Ferianto masih sangat aktif berkesenian di beberapa bidang, terutama lewat Kelompok Kesenian Kua Etnika, yang didirikan sejak tahun 1995, dan juga lewat orkes musik keroncong yg didirikan tahun 1997 bernama Orkes Sinten Remen. Ketika Sigit menggagas pergelaran jazz di gunung, Djaduk dengan serta merta mendukung gagasan tersebut dan akhirnya bersama Sigit dan Butet namanya tidak terpisahkan dari perhelatan jazz paling unik di Indonesia karena diselenggarakan di panggung terbuka yang dikelilingi oleh pegunungan di kawasan Bromo.

Butet Kartaredjasa

Butet Kartaredjasa

Butet Kertaredjasa adalah seorang aktor yang aktif di dunia teater sejak dekade 70an. Terlibat di belasan judul fim layar lebar sejak tahun 2000, Butet Kartaredjasa juga dikenal sebagai aktor yang aktif melakukan pentas monolog dan melakukan tur pementasan monolognya ke seluruh Indonesia sejak tahun 1986. Butet Kartaredjasa juga menggagas sebuah program bernama Indonesia Kita; Program Indonesia Kita adalah pertunjukan berseri pada 2011 yang dirancang untuk menjadi sebuah forum di mana isu-isu kreatif seperti pluralisme Indonesia dapat diperdebatkan melalui karya seni. Saat ini Butet Kartaredjasa masih sibuk dengan program Sentilan Sentilun di salah satu stasiun TV swasta bersama Slamet Rahardjo, program yang membahas isu-isu sosial politik secara ringan.